Sunday, 13 May 2018

On Falling in Love


Some things are better be documented when they are. Feeling is one example – and we tend to document them through expression. But in the past I tend to focus on the bad feelings. I have all the poems expressing my disgust, my disappointment, my ache. But I only have a few documenting my highs.

And I’m high on love right now. So I’ll write.

He feels like satisfaction. Maybe like earning your favorite peak. It’s an overflowing feeling when you discover, or achieve. High dose. Hard work paid off. But at the same time, it’s a calm satisfaction. Maybe like meeting your all-time favorite geek. Or like going home. He feels like enough. Like you’re being overconfident that you’ll be sufficiently content to be around for infinity. Feels like you’ve seen it all, there is no more to see. Or maybe it’s enough because in it you still have so much to see.

He feels like pride. Like someone you can always adore. Like seeing a great potential growing up. Like a teammate to always count on, that one person whose quality you want to brag about. He’s good at everything. He’s lovely on everything.

He feels like education. Or inspiration. It feels like you’re embarking with him an expedition of finding the treasure of life’s seemingly boring task. He minds your curiosity to random, insignificant goods of daily life. He knows their science. He’s the kind of knowledge that’s inviting, not intimidating. And in education, you level up. It translates dreams into vision, a tangible goal. It makes you grow up, rapidly, steadily.

He feels like my contribution. Where my strength and weaknesses are welcome as complementary. Where I am appreciated for my quality, and tolerated for my flaws – which aspire me to improve, tolerate, give, love, because I really want to, not because I feel like I have to. He makes me feel like I’m ready to give up the things I love because I’m happy to do it for me.

He feels like a risk worth taking. An effort worth enjoying. A temporary feeling worth nurturing.

Here and now, I love him.

So much, more than the future can obscure how much I mean when I’m documenting this. And I'm embracing all this cheesy expression triggered by this feeling.

Wednesday, 11 October 2017

Transisi



Apakah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan ingin menyandarkan kepala ke bahu seseorang yang nyaman?

San Fransisco, jam 11.10 malam.

Akhir dari dua minggu yang melelahkan. Beberapa belas hari perjalanan panjang penuh warna, yang mengingatkanku bahwa membangun sebuah hubungan membutuhkan investasi waktu yang penuh dan panjang. Berbagai siang yang penuh ide dan pemaksaan terhadap otak untuk memproses berbagai informasi hukum dari berbagai yurisdiksi, menerjemahkan ke dalam sistem hukum sendiri dan mengkontekstualisasikan apa yang bisa dipelajari dan digunakan dari si informasi. Malam-malam yang panjang – entah karena meneruskan bercerita dengan teman-teman baru di antara gelas-gelas bir, atau mengurus pekerjaan rumah di seberang lautan yang terus datang membanjiri.

Otak dan tubuhku ingin istirahat. Perasaanku ingin pulang.

Pulang. Menyandarkan kepala yang berat ke bahu yang nyaman. Menertawakan kesialan yang entah keberapa puluh kali memberikanku sedikit petualangan di setiap perhentian.

Ah, tapi apakah engkau tahu cerita lainnya? Saat tasku tersangkut di Atlanta ketika aku terbang ke Bogota? Saat pesawatku gagal berangkat karena gunung meletus dan mendamparkanku bersama beberapa belas pejalan lain di Ende, tempat Bung Karno diasingkan itu? Atau ketika aku terjebak badai di Ha Long Bay, Pulau Seram, di beberapa gunung?

Apakah engkau tahu bilik rahasia ini dimana aku menulis tentangmu? Bilik untuk mengabadikan perasaan – supaya engkau tidak hapus dari ingatan, dan mungkin sebagai suvenir ku untuk membungkus perasaan hangat yang kau berikan.

Tapi aku tidak hanya menulis perasaanku untuk atau karenamu di bilik ini. Aku menulis pemikiranku, harapanku, kegembiraanku, cintaku pada banyak sekali hal selain engkau, caci makiku dan kekecewaanku. Aku menulis imperatif moralku; semua hal baik yang kukira bisa aku sebarkan, ide-ide yang tidak termatikan. Seringkali aku gagal, dan ia juga kutuliskan. Apakah engkau tahu? Inginkah engkau tahu?
 
Aku bertanya-tanya apakah engkau akan pernah menjadi tempatku pulang. Tempat pulang dengan rasamu sendiri, sehingga aku tidak perlu mengingat-ingat bagaimana aku pulang kepada siapapun yang pernah kuanggap rumah. Tempat pulang yang menerima perubahan; yang terbuka dengan perkenalan yang lebih dalam pada setiap lapisan karakter kita, bahkan sisi sisi gelap yang mungkin belum pernah kita temui. Tempat pulang yang memberikan kebenaran, bukan keindahan superfisial.

Dan aku akan terus penasaran; bisakah aku menjadi tempatmu pulang?

Thursday, 28 September 2017

Pengembara Ingin



Pengembara berdiri bingung di tengah kemarin dan esok
Kemarin, jadilah engkau sejarah saja
Padamu simpanlah ruang temaram yang sudah ditanggalkan di belakang
Cantik
Namun dibawah humus hangat itu ada batu-batu dingin yang sudah susah payah ditimbun

Ah
Aku ingat rasanya
Siapkah bertemu batu-batu dingin itu lagi?

Pengembara ingin istirahat
Ingin lewat hutan teduh yang nyaman dan panjang
Membosankan dan aman
Menjauh sejenak dari padang bunga warna warni

Karena habis terang datanglah gelap
Dan di balik indah ada buruk yang harus dijalani
Tapi gelap dan buruk terkadang begitu pintar menyimpan kejutan

Pengembara ingin pulang
Pulang ke terang dan gelap yang telah menjadi ritme nyaman
Ke bahagia dan sedih yang telah berseimbang

Tuesday, 12 September 2017

Untuk Sewindu


Kawan,

Akhirnya aku bisa kembali memanggilmu kawan. Entahlah, mungkin ini percaya diri yang terlalu dini, tapi rasanya aku boleh mengapresiasi diri atas kerja keras berbulan-bulan ini. Memproses. Menerima. Menjaga. Gagal dan jatuh. Bangkit lagi, kembali memproses. Menerima. Menjaga....

Kita gagal dan jatuh berulang kali.

Bukankah dulu kita juga saling menjaga? Aku tak pernah menduga begitu susah kembali ke titik yang kita pernah begitu biasa. Tapi... kita bisa.

Kita menolak saling membuang, kawan. Dan aku selalu tahu berjalan denganmu kita akan sampai tujuan. Kita telah naik kelas: kau dan aku mampu menerima tanpa harus melupakan. Mengakui bahwa kita pernah berusaha sekuat tenaga. Menyayangi hingga pasrah. Mengarungi badai berdua hingga habis asa. Mendobrak - tidak takut meretakkan hati sendiri untuk satu sama lain. Mencoba dari awal lagi. Memaksa diri kembali berburu, mengecap teritori asing di luar sana yang sudah lama tak kita jumpa.

Dan aku berterima kasih kita telah begitu dewasa menghadapi perpisahan.

Kawan,

Aku titipkan kau untuk disayangi lebih dalam.

Lebih tak mengharap balas, lebih tak cemburu, lebih tak berkesudahan, lebih sabar menanggung segala sesuatu.

Jika kau menemukan kasih itu, belajarlah darinya, jagalah ia, dan mampirlah berdua menyapaku.


Bandung, September 2017

Monday, 28 August 2017

Lepas

Di depan sepuluh orang
Tidak ku tahu apakah sedih merias mukaku
Kuharap tidak
Semoga palsu muka seriusku bisa menopeng air mataku yang hampir banjir bandang
Berpayung layar
Dan ketikan surat gugatan

Pesanmu t'lah kubaca, pengecut
Semua ekspektasiku ketinggian!
Kau bahkan tak berani bicara langsung
Jantanku lebih darimu
Seperti biasanya

Semoga kau tidak membuang
Berlian berikutnya

Sampai nanti,
Jika jijikku t'lah kutaklukkan
Dan ikhlasku t'lah kutemukan

Tuesday, 25 July 2017

Serah

Kita mampu mengisolasi rasa
Mereguk sibuk agar lupa

Namun aku ingin memeluknya
Karena manis dan pahitmu adalah madah syukur

Sayang,
Siapa tahu aku mampu kembali memanggilmu kawan
Mengakhiri dengan kepala tegak,
Menerima tanpa mengubur

Tuesday, 6 June 2017

0306

Awal dan akhir, ia hari yang sama,
Sikapmu tak beda,
Kau mengetuk permisi sambil mencuri bata demi bata dinding benteng kita,
Dan aku mengutuki diri,
Mengapa kita gagal menjarak, kabur, lari, melupa?
Kau sudah kuingatkan: terlalu sering kita harus membuang yang dulu gemilang!

Tapi pernahkah kita ingat bahwa dalam bumi yang bundar, awal dan akhir selalu bertemu kembali, teman?
Yang di antaranya ada perayaan kegagalan kita setia pada rasio,
Dan di luarnya ada penuntun kita pulang dari penyerahan pada hati,

Cawan pahit kasih sudah kucukupkan, teman
Namun batas itu tak pernah benar-benar nyata
Yang pahit menjadi manis
Antonim menjadi sinonim
Awal dan akhir, ia hari yang sama