"If I fall in love with you the only method I know to quit will be
hiding and vanish ourselves from one another. I'm trying hard to reverse
those feelings back but still, I'm in it. And now - finding myself
staring jealously to a seemingly lovely angel, I wonder how years ahead
will be."
Maaf, saya kalah.Monday, 26 August 2013
Tuesday, 20 August 2013
hello, ruin...
"Ask. Ask honestly to your conscience. What are you trying to prove? A better life than someone else? A more superior character? Ability to carry on? Or simply hiding from your own guilty feeling? Refrain, hold. Life's a circle of them all, try your best: degrade yourself not, damage other people not."
Thursday, 15 August 2013
dari haluan rindu
Mendung temaram bertutur pelan
Mengapa peluk dan pagut yang ingin dilupa justru semakin menyerbu?
Mungkin karena tatapmu yang biasa dingin dan berjarak jadi teduh saat hidung dan dahi kita bertemu
Dan aku ragu
Mungkin kasih hadir di hari itu, bukan nafsu
Mengapa peluk dan pagut yang ingin dilupa justru semakin menyerbu?
Mungkin karena tatapmu yang biasa dingin dan berjarak jadi teduh saat hidung dan dahi kita bertemu
Dan aku ragu
Mungkin kasih hadir di hari itu, bukan nafsu
Pulang, Pengelana...
Kabut menjelma jadi embun
Menceritakan nafas jernih teratur
Pengelana-pengelana kota yang mencari sejenak lari dari pekat
Aku menjelma jadi kamu
Kita jadi mereka
Pohon jadi belantara
Tunggal dan jamak tak lagi kentara
Semua bersama rayuan angin yang berbisik pelan-pelan
Dan cumbuan dingin yang menggigiti diam-diam
Daun dan akar berusaha menyapa
Apakah kau dengar, wahai jiwa?
Diselipkan ke genggammu
sedikit indah
Yang mengundang pulang,
saat mulai lagi kau mati
Yang mengundang pulang,
saat mulai lagi kau mati
Thursday, 18 July 2013
mengapa kami berjalan, sendirian
Aku dan kamu, dan kamu-kamu yang lainnya, selamanya cukup saling kenal dalam pengalaman indera kita di subuh, senja, siang terik ataupun malam berbadai itu. Karena perjalanan merekatkan apa yang tidak terkatakan oleh kata; dan semesta memberikan manusia kesempatan untuk merasakan, menikmati, berada pada waktu, momen, perasaan yang hanya itu. Tidak terpaut sang lalu dan sang mendatang. Tidak terikat untuk bertemu lagi ketika pulang.
Karena yang tidak pernah terkatakan di tempat yang mengikat bisa meluncur dengan tenang selama kita saling menjamin untuk tetap asing. Dan bicara tentang hidup, luka, dan seacak-acaknya alam semesta begitu ringan ketika kita tahu kita akan saling menghilang.
Kita semua telah menyepakati hukum yang sama: bahwa aku dan kamu-kamu akan saling menemani dalam batas waktu yang tentu. Mewarnai sehari dua hari biar berarti, ketika selanjutnya menantang mental untuk tidak saling terobsesi.
Wednesday, 10 July 2013
bolehkah?
lari.
yang jauh.
lupa.
kan.
ada banyak cerita.
bayi mati dibuang ibunya. istri sedih diselingkuhi suami. bahan bakar dan subsidi. orang miskin tergusur. negara kurang banyak duit. hakim A, B, C, tidak becus. pembangunan salah tujuan. parlemen mengundangkan A, B, C amburadul semua. ambisi si dia, si dia, si dia yang lain. si dia meratapi romansa tai yang tak selesai-selesai. baju menunggu dilipat. tukang ojek promosi angkutan 24 jam. kafe-kafe minta disantap.
ada banyak harus dikerjakan.
lari.
penuhi otak.
lari!
...
aku cuma rindu kamu.
harus terus lari?
Monday, 1 July 2013
Langit di Atas Laut
Aku mau muntah melihati langit di atas laut...
Semburat yang tak akan cacat.
Oranye dan biru.
Seandainya pahitku dan nafsumu boleh berpadu jadi harmoni warna lembayung memagut ombak.
Bukan topeng yang sembunyikan borok menahun busuk berkabung, permanen menginfeksi,
makin parah,
makin parah,
makin parah.
makin parah,
makin parah,
makin parah.
Seandainya bibir yang dirampok sekian kali,
Setubuh yang dicuri sekian kali,
Peluk yang dimanipulasi sekian kali,
Peluk yang dimanipulasi sekian kali,
Liukan jemari yang berlomba dengan air dari kelopak mata memohon belas kasihan buat dia yang setengah mati mencari beda cinta dan birahi. Sekian kali.
Dikhianati ekspektasi sendiri.
Oranye dan oranye.
Biru dan biru.
Biru dan biru.
Nafsu dan nafsu.
Aku mau muntah melihati langit di atas laut.
Yang menjanjikan masa lalu bisa dianggap angin sekedar lalu.
Muntah.
Kabur dan ketakutan.
Muntah.
Digerayangi dan diciumi.
Muntah.
Disayang dan diminta maafi.
Muntah.
Dipuja bagai dewi suci.
Muntah.
Menunggu diselamatkan.
Muntah.
Menunggu diselamatkan.
Muntah.
Aku sudah tidak bisa berfikir jernih.
Semua membikin muntah.
Aku masih muntah melihati langit di atas laut...
Pertaruhan yang sudah permanen cacat.
Oranye dan biru.
Subscribe to:
Posts (Atom)

