Not because you have to.
A simple line.
A life changer.
Want it.
Otherwise, don't do it.
And I want...
To give, because your happiness is satisfying.
To provide comfort, because your honesty is my safe place.
To listen and share, because with you I excel in communicating.
To do so much things with you because it's fun.
To refrain from things that made you upset because I can make much more fun with you at your best.
To compromise, because I like the way we solve problems.
I do it for me, not for you.
And you tell me this for yourself, not for me.
But it's liberating.
And I don't want to lose that.
To want to.
To have this perspective while trying things out until our list exhausted.
You're an experiment.
And an equal experimenter -- that I look up to.
Tuesday, 10 July 2018
Sunday, 13 May 2018
On Falling in Love
Some things are
better be documented when they are. Feeling is one example – and we tend to
document them through expression. But in the past I tend to focus on the
bad feelings. I have all the poems expressing my disgust, my disappointment, my
ache. But I only have a few documenting my highs.
And I’m high
on love right now. So I’ll write.
He feels like
satisfaction. Maybe like earning your favorite peak. It’s an overflowing
feeling when you discover, or achieve. High dose. Hard work paid off. But at
the same time, it’s a calm satisfaction. Maybe like meeting your all-time favorite
geek. Or like going home. He feels like enough. Like you’re being overconfident
that you’ll be sufficiently content to be around for infinity. Feels like you’ve
seen it all, there is no more to see. Or maybe it’s enough because in it you
still have so much to see.
He feels like
pride. Like someone you can always adore. Like seeing a great potential growing
up. Like a teammate to always count on, that one person whose quality you want
to brag about. He’s good at everything. He’s lovely on everything.
He feels like
education. Or inspiration. It feels like you’re embarking with him an expedition
of finding the treasure of life’s seemingly boring task. He minds your
curiosity to random, insignificant goods of daily life. He knows their science.
He’s the kind of knowledge that’s inviting, not intimidating. And in education,
you level up. It translates dreams into vision, a tangible goal. It makes you
grow up, rapidly, steadily.
He feels like
my contribution. Where my strength and weaknesses are welcome as complementary.
Where I am appreciated for my quality, and tolerated for my flaws – which aspire
me to improve, tolerate, give, love, because I really want to, not because I feel like I have to. He makes me feel
like I’m ready to give up the things I love because I’m happy to do it for me.
He feels like
a risk worth taking. An effort worth enjoying. A temporary feeling worth nurturing.
Here and now,
I love him.
So much, more
than the future can obscure how much I mean when I’m documenting this. And I'm embracing all this cheesy expression triggered by this feeling.
Wednesday, 11 October 2017
Transisi
Apakah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan ingin
menyandarkan kepala ke bahu seseorang yang nyaman?
San Fransisco, jam 11.10 malam.
Akhir dari dua minggu yang melelahkan. Beberapa belas hari
perjalanan panjang penuh warna, yang mengingatkanku bahwa membangun sebuah
hubungan membutuhkan investasi waktu yang penuh dan panjang. Berbagai siang
yang penuh ide dan pemaksaan terhadap otak untuk memproses berbagai informasi
hukum dari berbagai yurisdiksi, menerjemahkan ke dalam sistem hukum sendiri dan
mengkontekstualisasikan apa yang bisa dipelajari dan digunakan dari si
informasi. Malam-malam yang panjang – entah karena meneruskan bercerita dengan
teman-teman baru di antara gelas-gelas bir, atau mengurus pekerjaan rumah di
seberang lautan yang terus datang membanjiri.
Otak dan tubuhku ingin istirahat. Perasaanku ingin pulang.
Pulang.
Menyandarkan kepala yang berat ke bahu yang nyaman. Menertawakan kesialan yang
entah keberapa puluh kali memberikanku sedikit petualangan di setiap
perhentian.
Ah, tapi apakah engkau tahu cerita lainnya? Saat tasku
tersangkut di Atlanta ketika aku terbang ke Bogota? Saat pesawatku gagal
berangkat karena gunung meletus dan mendamparkanku bersama beberapa belas
pejalan lain di Ende, tempat Bung Karno diasingkan itu? Atau ketika aku
terjebak badai di Ha Long Bay, Pulau Seram, di beberapa gunung?
Apakah engkau tahu bilik rahasia ini dimana aku menulis
tentangmu? Bilik untuk mengabadikan perasaan – supaya engkau tidak hapus dari
ingatan, dan mungkin sebagai suvenir ku untuk membungkus perasaan hangat yang
kau berikan.
Tapi aku tidak hanya menulis perasaanku untuk atau karenamu
di bilik ini. Aku menulis pemikiranku, harapanku, kegembiraanku, cintaku pada
banyak sekali hal selain engkau, caci makiku dan kekecewaanku. Aku menulis imperatif
moralku; semua hal baik yang kukira bisa aku sebarkan, ide-ide yang tidak
termatikan. Seringkali aku gagal, dan ia juga kutuliskan. Apakah engkau tahu? Inginkah engkau tahu?
Aku bertanya-tanya apakah engkau akan pernah menjadi
tempatku pulang. Tempat pulang dengan rasamu
sendiri, sehingga aku tidak perlu mengingat-ingat bagaimana aku pulang kepada
siapapun yang pernah kuanggap rumah. Tempat pulang yang menerima perubahan; yang
terbuka dengan perkenalan yang lebih dalam pada setiap lapisan karakter kita,
bahkan sisi sisi gelap yang mungkin belum pernah kita temui. Tempat pulang yang
memberikan kebenaran, bukan keindahan superfisial.
Dan aku akan terus penasaran; bisakah aku menjadi tempatmu
pulang?
Thursday, 28 September 2017
Pengembara Ingin
Pengembara berdiri
bingung di tengah kemarin dan esok
Kemarin,
jadilah engkau sejarah saja
Padamu simpanlah
ruang temaram yang sudah ditanggalkan di belakang
Cantik
Namun
dibawah humus hangat itu ada batu-batu dingin yang sudah susah payah ditimbun
Ah
Aku ingat
rasanya
Siapkah bertemu
batu-batu dingin itu lagi?
Pengembara
ingin istirahat
Ingin lewat
hutan teduh yang nyaman dan panjang
Membosankan
dan aman
Menjauh sejenak
dari padang bunga warna warni
Karena habis
terang datanglah gelap
Dan di balik indah ada buruk yang harus dijalani
Tapi gelap dan buruk terkadang begitu pintar menyimpan kejutan
Tapi gelap dan buruk terkadang begitu pintar menyimpan kejutan
Pengembara ingin pulang
Pulang ke
terang dan gelap yang telah menjadi ritme nyaman
Ke bahagia dan sedih yang telah berseimbang
Tuesday, 12 September 2017
Untuk Sewindu
Kawan,
Akhirnya aku bisa kembali memanggilmu kawan. Entahlah, mungkin ini percaya diri yang terlalu dini, tapi rasanya aku boleh mengapresiasi diri atas kerja keras berbulan-bulan ini. Memproses. Menerima. Menjaga. Gagal dan jatuh. Bangkit lagi, kembali memproses. Menerima. Menjaga....
Kita gagal dan jatuh berulang kali.
Bukankah dulu kita juga saling menjaga? Aku tak pernah menduga begitu susah kembali ke titik yang kita pernah begitu biasa. Tapi... kita bisa.
Kita menolak saling membuang, kawan. Dan aku selalu tahu berjalan denganmu kita akan sampai tujuan. Kita telah naik kelas: kau dan aku mampu menerima tanpa harus melupakan. Mengakui bahwa kita pernah berusaha sekuat tenaga. Menyayangi hingga pasrah. Mengarungi badai berdua hingga habis asa. Mendobrak - tidak takut meretakkan hati sendiri untuk satu sama lain. Mencoba dari awal lagi. Memaksa diri kembali berburu, mengecap teritori asing di luar sana yang sudah lama tak kita jumpa.
Dan aku berterima kasih kita telah begitu dewasa menghadapi perpisahan.
Kawan,
Aku titipkan kau untuk disayangi lebih dalam.
Lebih tak mengharap balas, lebih tak cemburu, lebih tak berkesudahan, lebih sabar menanggung segala sesuatu.
Jika kau menemukan kasih itu, belajarlah darinya, jagalah ia, dan mampirlah berdua menyapaku.
Bandung, September 2017
Monday, 28 August 2017
Lepas
Di depan sepuluh orang
Tidak ku tahu apakah sedih merias mukaku
Kuharap tidak
Semoga palsu muka seriusku bisa menopeng air mataku yang hampir banjir bandang
Berpayung layar
Dan ketikan surat gugatan
Pesanmu t'lah kubaca, pengecut
Semua ekspektasiku ketinggian!
Kau bahkan tak berani bicara langsung
Jantanku lebih darimu
Seperti biasanya
Semoga kau tidak membuang
Berlian berikutnya
Sampai nanti,
Jika jijikku t'lah kutaklukkan
Dan ikhlasku t'lah kutemukan
Tidak ku tahu apakah sedih merias mukaku
Kuharap tidak
Semoga palsu muka seriusku bisa menopeng air mataku yang hampir banjir bandang
Berpayung layar
Dan ketikan surat gugatan
Pesanmu t'lah kubaca, pengecut
Semua ekspektasiku ketinggian!
Kau bahkan tak berani bicara langsung
Jantanku lebih darimu
Seperti biasanya
Semoga kau tidak membuang
Berlian berikutnya
Sampai nanti,
Jika jijikku t'lah kutaklukkan
Dan ikhlasku t'lah kutemukan
Tuesday, 25 July 2017
Subscribe to:
Posts (Atom)