Thursday, 22 July 2010

22.07.2010

tidak seharusnya kamu membenci yang lemah, anakku...

tapi aku tak bisa, bunda.
bagaimana bisa aku tahan melihat orang mengasihani dirinya sendiri?
memakai kelemahannya meminta belas kasihan?

seharusnya kamu ada disana menolong yang lemah

cara menolong ada banyak, bunda.
merekalah yang harus menolong diri mereka sendiri.
bangun dari kelemahannya.
jiwa manusia terlalu kuat untuk dilemahkan otaknya sendiri.

dunia itu begitu kejam.
kau hanya belum tahu


tapi aku siap menghadapinya, bunda.
aku menolak jadi yang lemah, karena itulah aku akan bertahan.
dan dunia terlalu indah bagiku, bunda.
aku tak tahu bahwa ia kejam.

karena kau telah terbangun kuat.
mereka tidak punya akar sepertimu.


mereka bisa membangunnya, bunda...

akar tidak tumbuh dalam beberapa menit, anakku.

kalau tidak dimulai, kapan ia akan tumbuh dan mengakar dengan kuat?

tentu bisa dimulai bertumbuh.
tapi sekarang mereka lemah, anakku.
meminta mereka menjadi kuat bukan yang mereka butuhkan sekarang.


aku lelah bunda.
aku mulai hilang kepercayaan pada mereka.
biar saja mereka selamanya lemah.
selamat malam.

Friday, 18 June 2010

jaman apa, untuk siapa?

Aku hidup di jaman orang dipecut setan
Mulut manis berludah tuba
Semua mudah diprovokasi
Semua suka memprovokasi
Asal tuan senang, asal harta mengalir lancar
Yang bodoh termakan cakap, semakin bodoh mereka jadi

Aku hidup di jaman ulama berotak babi
Tak ajarkan kasih, meludahi damai
Ajak selesaikan tikai dengan batu dan neraka
Bahkan babi lebih baik dari mereka?

Aku hidup di jaman otak orang tak lagi berfungsi, hati pun mati
Pasrah dimanipulasi, terima saja semua informasi
Bohong dikira fakta, walau tak ada lagi yang benar fakta
Menghakimi tanpa mengkaji, berkoak banyak dangkal isinya

Aku hidup di jaman stagnasi
Yang bodoh enggan belajar
Yang miskin enggan bekerja
Yang lemah minta dikasihani saja terus
Yang curang, kuat, kaya, mana mau mengalah
Memang buat apa mengalah

...
Aku hidup untuk apa?

Sunday, 23 May 2010

was it a question longing for answer? or just a random thought?

di mana?

(ditulis di dalam gereja pada saat ekaristi kudus)

di mana Tuhan?

di rumahmu?
tak ketemu.
sepertinya pastor di depan tak berniat memperkenalkanku padamu.

di mana Tuhan?
di doa?
kadang saja ketemu.
tapi pada siapa aku berdoa?
pada otakku?
atau itu kamu?

di mana tuhan?
di dalam lagu.
di tengah alam.
di antara manusia.
di situkah, tuhanku?
atau aku salah merasa?
rasanya ada.

tapi apa?
di mana?

Saturday, 22 May 2010

they are where my poems meet melody, where my voice finds its instruments.

and he the undiscovered one is whom god crated to fit my personality.

luka di gempita, berdansa di gulita

Wahai dunia yang indah gempita
Apakah kau luka?
Sesak di relungmu, ibu pertiwi.
Menangis dalam syahdu.

Anak-anakku cendekia bangsa
Janganlah kau lupakan
Sebuah candu tuk kejar mimpimu
Butakan matamu sampirkan manusia

Aku tahu berharga emas permata itu
Namun kumohonkan pinta padamu lihat aku menelan pahitnya perih

Reff:
Kita berdansa di dalam gulita.
Kita merana berlumur asa.
Takkankah ada yang melihat kita?
Tertutup bayang cahaya suka

Wahai dewi yang buta matamu,
Sudahkah pedangmu aus?
Timbangkan dosa bubuhkan obat bagi luka.

Reff:
Kita berdansa di dalam gulita.
Kita merana berlumur asa.
Takkankah ada yang melihat kita?
Tertutup bayang cahaya suka

Aku tahu berharga emas permata itu
Namun kumohonkan pinta padamu lihat aku menelan pahitnya perih

Thursday, 22 April 2010

tidak sehitam putih itu.

meskipun aku menapaki sisi pembela yang hitam
apakah berarti aku harus disebut hitam?
bukankah kau tak tahu untuk apa aku dikutuk dosa membela yang hitam?

untuk putih...