Tuesday, 2 October 2012

dan kita bicara perihal kehampaan


Baru dua minggu, tapi sudah lama sekali rasanya. Kau jauh dan terlalu menjijikkan buat kuajak bicara. Dua minggu lalu aku belajar darimu tentang air susu dibalas air tuba. Juga tentang keadilan, bahwa rasa tidak bisa dipaksa, tapi etika patut tetap ada. Dan kau kalah, aku telah bisa seribu kali disalibkan lalu memaafkan; tapi kau jatuh di lubang yang sama berkali-kali, tak berniat bangun sama sekali. Kau menikung, aku tersenyum.

Baru dua minggu, dan sekarang aku berdiri di atas cara pandangmu. Aku tak jauh dan tidak menjijikkan, tapi enggan bicara. Kali ini tidak ada air susu ataupun air tuba, hanya paksaan hati untuk kabur semata. Aku mati-matian berusaha menggamit keadilan, bahwa rasa tidak bisa dipaksa, tapi etika patut tetap ada. Aku mencoba untuk tidak kalah, permisi dengan sopan, tanpa menyakiti perasaan. Dua kali dan itu melelahkan. Bukankah aku pernah berjanji tak lagi main kasar?

Memang lebih mudah jadi korban daripada penjahatnya.
Aku patut memanggilmu jahanam. Tapi tolong katakan, mereka tak boleh memanggilku jahanam...


Depok, 2 Oktober 2012

Sunday, 16 September 2012

hati-hati di depan sana

Bencilah aku, dan maafkan.
Yang bisa kau kenang darinya adalah cinta,
dan dariku selusin puisi sinis.

Aku tak memaafkanmu atas apa yang kau perbuat padanya,
Tapi ini repetisi,
Karma.
Kenapa harus aku yang kena?
Kau yang berdosa!

Semua adil.
Kau dan aku sama hinanya.

Rayakanlah, sayang!
Yang harus berakhir,
akhirnya berakhir.

Bandung, 16 September 2012.

Friday, 14 September 2012

pengakuan dosa

jadilah bangsat,
tapi bangsat yang total
penjahat sejati

jangan setengah-setengah,
tak sehat buat hati

Wednesday, 12 September 2012

dan kapan aku bisa memanggilmu teman, sayang?


sungguh aneh manusia.

jika kau dapat memilih permata,
mengapa paku berkarat yang kau bawa?

Thursday, 3 May 2012

pedih itu hidup. dan kau tanya kenapa aku perduli.

bukan urusaku semua itu
tapi pedih itu nyata,
mengusik!
memohon agar buta saja

aku tak bisa berbuat,
hanya bisa mengamati...
menyadari.

mereka yang tangannya tertadah,
dan aku yang lewat di depannya,
nyalang mengejar mimpi
kepuasan pribadi.
menyadari,
mengamati.
dan ah, ngeri!
betapa tak terbebani!

pedih itu nyata
kian membara
aku sesama yang mati

Wednesday, 2 May 2012

sungguh, aku belum ingin beranjak...

Mahasiswa adalah pribadi-pribadi yang gelisah. Mereka membutuhkan pengakuan dan apresiasi atas eksistensinya. Mereka ingin dilihat; ada di antara idealisme dan naivitas. Mereka baik hati dan haus guna; begitu mudah dimanipulasi dan terpancing. Mereka ingin dibenarkan, egonya adalah darah muda yang mendidih.

ditulis 24 juni 2010

Wednesday, 18 April 2012

jangan ajari mereka moral, jika suatu hari kau akan merampasnya


yang akan tersisa cuma hati yang berderak-derak pecah seribu.

lebih baik ajarkan mereka jadi penjahat.
warnai hati itu hitam sebelum mereka kenal baik dan buruk.
biar sekalian, jadi penjahat profesional.

pada akhirnya, rasa bersalah itu raib juga, bukan?
yang tersisa hanya seonggok jasad munafik, tak berjiwa.
masih mencoba bilang aku bermoral.
mencari justifikasi.
palsu.