Wednesday, 27 July 2011
Kewajiban
Tidakkah begitu?
Maka itu, aku lebih suka menjaga jarak denganmu.
Karena kita akan segera membosankan.
Dan kau akan jadi sekedar kewajiban.
Allah
Absolut itu tak ada;
Kitab suci sekedar canda,
Dan pemuka agama penjilat belaka.
Jika memang kamu jamak;
Relatif pun sudah tiada,
Dan semua cerita yang dilantunkan di dunia adalah perang;
Karena yang selamat hanya yang percaya...
Kami bertopeng,
Juga mereka yang tak berani menyebutmu dengan nama.
Dan bagaimana bisa aku memohon ampun atas dosaku,
Ketika berdosa pun sebuah doktrin tak utuh,
Dan neraka hanya angan-angan kekal.
Namun hai engkau yang tak kukenal,
Kepada siapa aku berdecak kagum?
Ketika bulan bintang dan alam terlalu cantik tuk dikagumi,
Dan cinta terlalu indah tuk dimengerti.
Friday, 1 April 2011
suami sang pelacur; suamiku.
masif, membuncah
Duduklah disini, mas. Ujarku memaksa pelayan itu duduk di depanku. Ia duduk.
Mengapa anak muda harus begitu haus dan rakus? Ia diam, bingung. Ia seumurku.
Mengapa mereka harus begitu gelisah? Ia masih diam. Mungkin ia tak mengerti apa kegelisahanku. Ingin aku dapatkan darinya timbang rasa, kenyataan bahwa ia gelisah pula sepertiku. Tapi ia tampak tenang, tak tergugat.
Mengapa kita bertanya mengapa? Ia masih diam. Mungkin ia tidak bertanya mengapa. Ah, enaknya punya hati lega sepertinya. Kalau aku jadi dia mungkin aku sudah mati bertanya pada diriku sendiri saat kubekerja berjam-jam dengan tubuhku saja seharian. Mati bertanya karena otakku tak disumpal dengan perkara-perkara yang dilimit secara konkrit.
... Aku diam, tak kulanjutkan. Kulumat lagi buku-buku ini. Musik-musik dan lirik-lirik ini. Peradaban ini. Semua yang telah berdosa memasukkan berbagai macam sampah ke otakku yang impulsif mencari fakta dan makna.
Mungkin manusia membuat agama karena disitu ia bisa berlindung dari otaknya yang terlalu banyak mencecar pertanyaan sampai mau meledak. Ya ya ya, aku beruntung sedikit mengenal pengetahuan. Sekaligus begitu lemah karena dengan pengetahuan yang begitu secuil saja sudah pusing.
Ah, khas anak muda...
Di sudut sana segerombolan lelaki muda memandangiku. Mengerling genit.
Aih ini pula. Khas anak muda yang lainnya. Beda dunia. Sama gelisah. Bisa-bisanya kau galau kekasih setiap hari, tuan-tuan; menggoda wanita. Si pelayan masih terduduk di depanku. Kuteruskan membaca.
Tidakkah aku seharusnya berkaca pada realita? Kenapa malah terjebak disini?Tuesday, 22 March 2011
Kataku, Kau Harusnya Mengeluh
Ujian Nasional kata mereka, disana bebanmu seribu!
Kau termangu, teman! Ragu!!
Ah, tidakkah kau mengeluh?
Belumkah kau kehilangan idealismemu?
Tlah kubilang bebal anak-anak itu
Berani bertaruh yang lulus tak lebih dari separuh
Serahkan saja semuanya pada seleksi alam
Yang lemah kan terlindas, yang kuat yang bertahan
Bukankah wajar bila suka murid-murid pintar?
Berbayar mahal,
Berkelakuan santun,
Tinggalkan saja mereka yang bodoh, lagi malas!!
Ah, tidakkah kau mengeluh?
Uangmu.
Mimpimu.
Kau bisa jadi lebih besar daripada itu.
Mengapa tidak mau kau mengeluh?
Wednesday, 9 March 2011
10032011
Kalaupun kita bicara, benar dan salah yang seperti apa?
Tidakkah itu baik dan buruk?
Dan bagaimana akan kau jelaskan ketika kawan kau anggap musuh?
Jawablah...
Benarkah kita bicara tentang celah,
Kesempatan,
Atau hitam dan putih?
Bila aku membela mereka,
Berhadap-hadapan denganmu,
Dan menang...
Apakah kau akan membenciku?
Pantaskah kau menilaiku picik, busuk, korup?
Sunday, 16 January 2011
tanah air
kilauan ikan-ikan tropis yang bermain lincah diantara terumbu karang.
alam yang megah. alam yang gundah.
bolehkah aku meminta mereka tak menyentuhmu?
aku merindukan hutan, laut, sawah, pantai.
mencemaskan.
akankah kita berjumpa di masa akan datang?