Ah, tidakkah kau mengeluh?
Ujian Nasional kata mereka, disana bebanmu seribu!
Kau termangu, teman! Ragu!!
Ah, tidakkah kau mengeluh?
Belumkah kau kehilangan idealismemu?
Tlah kubilang bebal anak-anak itu
Berani bertaruh yang lulus tak lebih dari separuh
Serahkan saja semuanya pada seleksi alam
Yang lemah kan terlindas, yang kuat yang bertahan
Bukankah wajar bila suka murid-murid pintar?
Berbayar mahal,
Berkelakuan santun,
Tinggalkan saja mereka yang bodoh, lagi malas!!
Ah, tidakkah kau mengeluh?
Uangmu.
Mimpimu.
Kau bisa jadi lebih besar daripada itu.
Mengapa tidak mau kau mengeluh?
Tuesday, 22 March 2011
Wednesday, 9 March 2011
10032011
Bukankah kita tidak bicara benar dan salah?
Kalaupun kita bicara, benar dan salah yang seperti apa?
Tidakkah itu baik dan buruk?
Dan bagaimana akan kau jelaskan ketika kawan kau anggap musuh?
Jawablah...
Benarkah kita bicara tentang celah,
Kesempatan,
Atau hitam dan putih?
Bila aku membela mereka,
Berhadap-hadapan denganmu,
Dan menang...
Apakah kau akan membenciku?
Pantaskah kau menilaiku picik, busuk, korup?
Kalaupun kita bicara, benar dan salah yang seperti apa?
Tidakkah itu baik dan buruk?
Dan bagaimana akan kau jelaskan ketika kawan kau anggap musuh?
Jawablah...
Benarkah kita bicara tentang celah,
Kesempatan,
Atau hitam dan putih?
Bila aku membela mereka,
Berhadap-hadapan denganmu,
Dan menang...
Apakah kau akan membenciku?
Pantaskah kau menilaiku picik, busuk, korup?
Sunday, 16 January 2011
tanah air
aku merindukan hutan, laut, sawah, pantai.
kilauan ikan-ikan tropis yang bermain lincah diantara terumbu karang.
alam yang megah. alam yang gundah.
bolehkah aku meminta mereka tak menyentuhmu?
aku merindukan hutan, laut, sawah, pantai.
mencemaskan.
akankah kita berjumpa di masa akan datang?
kilauan ikan-ikan tropis yang bermain lincah diantara terumbu karang.
alam yang megah. alam yang gundah.
bolehkah aku meminta mereka tak menyentuhmu?
aku merindukan hutan, laut, sawah, pantai.
mencemaskan.
akankah kita berjumpa di masa akan datang?
Tuesday, 12 October 2010
semua guratan penaku adalah pedang. ia membunuh keceriaan. menggurat kegelapan.
apa yang salah dari pedang?
ada!!
APA?
mereka mencari-cari remahan yang terserak di balik kelopak mata mereka. apa yang salah?
ada!!
APA?
mereka mencari-cari remahan yang terserak di balik kelopak mata mereka. apa yang salah?
merunut kembali ke setahun lalu
Hai!
Aku memanggilmu
Kaulihatkah topeng itu?
Atau kaulihat aku yang beku terjebak waktu?
Kita kaku, teman.
Kita tak akan seperti dulu
Aku begitu merindu, bolehkah kupinjam waktu yang temporer dan kubuat permanen, tetap pada titik itu?
Mengapa kita berubah, bergerak?
Mengapa kau menyadarkan dia, dia, dan dia?
Mengapa kau begitu dungu, tak bisakah kau terima saja dirimu, tidak begitu terobsesi akan masa depan?
Yang salah kau, juga kau, juga kau, juga kau.
Aku terluka, lebih baik buta
Tidak bolehkah aku hanya melihat surga?
Aku memanggilmu
Kaulihatkah topeng itu?
Atau kaulihat aku yang beku terjebak waktu?
Kita kaku, teman.
Kita tak akan seperti dulu
Aku begitu merindu, bolehkah kupinjam waktu yang temporer dan kubuat permanen, tetap pada titik itu?
Mengapa kita berubah, bergerak?
Mengapa kau menyadarkan dia, dia, dan dia?
Mengapa kau begitu dungu, tak bisakah kau terima saja dirimu, tidak begitu terobsesi akan masa depan?
Yang salah kau, juga kau, juga kau, juga kau.
Aku terluka, lebih baik buta
Tidak bolehkah aku hanya melihat surga?
bakti sosial
Kalian tahu apa artinya bakti sosial, adik-adik?
Wajah-wajah yang ceria, apakah mereka bangga?
Mereka kira ini acara bermain barangkali, memang dikemas bermain.
Berbagi.
Bercanda bersama.
Apalah namanya.
Tapi tak tahukah kau artinya bakti sosial, gadis kecil?
Orang-orang ini mengasihani kamu.
Ada ketidaksejajaran.
Ada ketidakmampuan.
Tapi ironis bukan, justru dengan ketidakmampuanmu kau bisa berkembang lebih daripada anak-anak biasa.
Kau hidup komunal, berjuang menjadi yang paling menonjol diantara kawananmu.
Kau belajar jadi makhluk sosial, berinteraksi dengan orang asing begitu sering.
Sesering bakti sosial yang diadakan untukmu.
Kau tidak terpenjara bersama mainan dan pembantu layaknya anak orang kaya di balik jeruji tinggi disana.
Mungkin
Anakku nanti akan kubuatkan bakti sosial.
Bakti sosial untuk mental yang terpenjara dan kesepian tanpa kasih orang tua, yang hanya mengenal boneka dan les, yang dikenalkan pada peradaban dan terpaku pada ilmu pengetahuan yang memikat.
Adil bukan, nak?
Wajah-wajah yang ceria, apakah mereka bangga?
Mereka kira ini acara bermain barangkali, memang dikemas bermain.
Berbagi.
Bercanda bersama.
Apalah namanya.
Tapi tak tahukah kau artinya bakti sosial, gadis kecil?
Orang-orang ini mengasihani kamu.
Ada ketidaksejajaran.
Ada ketidakmampuan.
Tapi ironis bukan, justru dengan ketidakmampuanmu kau bisa berkembang lebih daripada anak-anak biasa.
Kau hidup komunal, berjuang menjadi yang paling menonjol diantara kawananmu.
Kau belajar jadi makhluk sosial, berinteraksi dengan orang asing begitu sering.
Sesering bakti sosial yang diadakan untukmu.
Kau tidak terpenjara bersama mainan dan pembantu layaknya anak orang kaya di balik jeruji tinggi disana.
Mungkin
Anakku nanti akan kubuatkan bakti sosial.
Bakti sosial untuk mental yang terpenjara dan kesepian tanpa kasih orang tua, yang hanya mengenal boneka dan les, yang dikenalkan pada peradaban dan terpaku pada ilmu pengetahuan yang memikat.
Adil bukan, nak?
Saturday, 9 October 2010
kasihan. samakah?
Angkat seseorang ke titik tiga puluh lalu kembalikan ia ke titik tiga,
Torehkan kenangan yang ia terus ceritakan.
Dan jebaklah ia.
Terperangkap masa lalu adalah duka yang paling suram.
Mengapa kiblatmu selalu ketitik sana?
Tak cukup aku terlihat mengasihanimu, dengan mimpi-mimpimu yang berhenti "pada waktu itu"?
Cerita yang kauulangkan sampai kuhapal.
"Waktu itu"
"Waktu itu"
Kini apa?
Ada lagi kisah lainnya.
Entah mengapa, selalu terpaku kesana.
"Disana"
"Disana"
Heh, buta, tak bisa kau lihat sini?
Tolaklah darahmu, larilah!
Realita itu apa?
Ataukah sudah cita-citamu lari darinya?
Torehkan kenangan yang ia terus ceritakan.
Dan jebaklah ia.
Terperangkap masa lalu adalah duka yang paling suram.
Mengapa kiblatmu selalu ketitik sana?
Tak cukup aku terlihat mengasihanimu, dengan mimpi-mimpimu yang berhenti "pada waktu itu"?
Cerita yang kauulangkan sampai kuhapal.
"Waktu itu"
"Waktu itu"
Kini apa?
Ada lagi kisah lainnya.
Entah mengapa, selalu terpaku kesana.
"Disana"
"Disana"
Heh, buta, tak bisa kau lihat sini?
Tolaklah darahmu, larilah!
Realita itu apa?
Ataukah sudah cita-citamu lari darinya?
Subscribe to:
Posts (Atom)